HEDONISME DAN PENGARUHNYA TERHADAP KHALIFAH BANI UMAYYAH

Bobbi Aidi Rahman

Abstract


Sejarah Dinasti Bani Umayyah tidak bisa dilepaskan dari peristiwa sebelumnya, yakni peritiwa tahkim. Peritiwa tersebut menyebabkan peralihan kekuasan dari Ali Ibn Abi Talib kepada Mu’awiyyah Ibn Abi Sufyan. Perpindahan kekuasaan juga berakibat pada sistem pergantian khalifah, dari sistem (syura) musyawarah kepada sistem monarki. Dan juga perubahan-perubahan kebijakan lainnya yang dilakukan oleh para khalifah Bani Umayyah yang pada masa sebelumnya belum ada. Tulisan ini bertujuan untuk melihat gaya hidup hedonis dan pengaruhnya terhadap para khalifah Umayyah, dimana gaya hidup hedonis akan mempengaruhi kemampuan dan kinerja para khalifah dalam menjalankan roda pemerintahannya. Dan juga watak dan pola serta moral khalifah akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dibuatnya. Karena maju dan mundurnya pemerintahan tergantung kepada khalifah.


Keywords


Hedonisme, Khalifah, Bani Umayyah

Full Text:

PDF

References


Ahmad Muhammad Khaufi, Adab al-Siyasiyyah fi al-‘As}ri al-Umawi (al-Qahirah: Dar al-Nahdah al-Misri, 1979 M), 7

Ahmad Salaby, Sejarah Kebudayaan Islam I terj, Muchtar Yahya (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983), 27

Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), 34

Namun menurut Antony Black, sistem kekhalifahan Bani Umayyah adalah patrimonialisme, yaitu sistem pemerintahan yang memberikan hak kepada pemimpin untuk menganggap negara sebagai miliknya dan bisa diwariskan kepada keluarganya secara turun temurun, sementara rakyat dipandang sebagai bawahan yang berada di bawah perlindungan dan dukungannya. Lihat Antony Black, Pemikiran Politik Islam, terj. Hartono Hadikumoro (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), 56. Walaupun tidak menggunakan prinsip Syura dalam pemerintahan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Khulafaur Rasyidun, namun ia memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk mengeluarkan pikiran dan ide-ide meraka, dan apa yang menjadi pembicaraannya diperhatikan khalifah secara serius, dan membahasnya di istana, kemudian mewujudkan apa-apa yang dapat diwujudkan oleh khalifah, lihat juga Yusuf al-‘Isy, Dinasti Umawiyah (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2007), 168

Ali Sodiqin dkk, Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern (Yogyakarta: Lesfi Yogyakarta, 2002), 84

Didin Saefuddin Buchori, Sejarah Politik Islam (Jakarta: Pustaka Intermasa, 2009), 52. Namun menurut M. Dhiauddin Rais dalam Teori Politik Islam, 144, dijelaskan bahwa latar belakang yang mendorong Muawiyyah untuk mewariskan kekhalifahannya itu ialah Muawiyyah khawatir nantinya akan terjadi fitnah dan perseteruan yang berakibat pada pertumpahan darah sebagaimana fitnah yang terjadi sejak kematian khalifah Uthman, yang bayangan kepedihannya masih sempat terekam kuat dalam ingatan. Ia takut sepeninggalannya umat Muhammad laksana domba tanpa pengembala.

Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Jakarta: logos, 1997), 73

Didin Saefuddin Buchori, Sejarah Politik Islam, 56

Ali Sodiqin dkk, Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern, 84-85

Moh. Mufid, Politik Dalam Perspektif Islam (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2004), 36

Ibnu Khaldun, Muqadimah (Beirut: Dar Fikri, 1980), pasal ke 25, 158-159

Ar-Razi, al-Arba’in fi Us}ul ad-Din (Mathba’ah Majlis Da’iroh al-Ma’arif al-Uthmaniyah: Baldah, 1363 H), 427-428

Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), Cet. XI, 29

Moh. Mufid, Politik Dalam Perspektif Islam, 39

Muhammad Tholchah Hasan, Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman (Jakarta: Lantabora Press, 2000), Cet. III, 110

Achmad Fanani, Kamus Istilah Kontemporer (Yokyakarta: Mitra Pelajar, 2010), 223

Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Umayyah I di Damaskus (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), 48

Philip K. Hitti, History of The Arabs (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006), 283-284

Philip K. Hitti, History of The Arabs, 285

Hepi Andi Bustoni, Sejarah Para Khalifah (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2008), 32

Hepi Andi Bustoni, Sejarah Para Khalifah, 32

Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Umayyah I di Damaskus, 52

Philip K. Hitti, History of The Arabs, 284.

Philip K. Hitti, History of The Arabs, 285

Yusuf al’Isy, Dinasti Umawiyah (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998), 199.

Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Umayyah I di Damaskus, 74

Untuk meredamkan konflik atas peristiwa pembunuhan terhadap H{usain, maka Yazid mengundang rombongan penduduk Madinah diantaranya Abdulllah bin Hanzhalah al-Ghasil dan al-Mundzir. Mereka disambut dengan menyuguhinya dengan bermacam-macam suguhan, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa al-Mundzir diberi uang sebanyak seratus dirham. Bayank penduduk yang menanyakan perihal pertemuan tersebut dan apa yang mereka lihat. Lalu mereka menjawab: “kita telah menemui seseorang yang tak punya agama, peminum arak, suka bermain musik dan bernyanyi, syka bermain dengan anjing, bersendau gurau dengan dayang-dayangnya. Sesungguhnya kami bersaksi bahwa kami telah putus dengannya”. Lalu para penduduk mengikuti untuk melepaskan baiat Yazid. Lihat Yusuf al’Isy, Dinasti Umawiyah, 210

Al-Ibahat yakni kebebasan bagi tentara untuk berbuat sesuka hati mereka di kota Madinah selama tiga hari, dan pada hari keempat harus dihentikan. Kebebasan itu mengakibat terjadinya pembunuhan, perampasan harta benda, dan penistaan terhadap kaum wanita. Kegiatan tersebut merupakan tradisi dari tentara-tentara Romawi semenjak beberapa abad sebelumnya, baik sebelum kaisar-kaisar Romawi memeluk kristen maupun sesudahnya. Lihat Hepi Andi Bustoni, Sejarah Para Khalifah, 35

Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Umayyah I di Damaskus, 182

Philip K. Hitti, History of The Arabs,

Hepi Andi Bustoni, Sejarah Para Khalifah, 59

Yusuf al’Isy, Dinasti Umawiyah, 346

Yusuf al’Isy, Dinasti Umawiyah

Seperti diriwayatkan at-Thabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk, ketika ketika diangkat menjadi khalifah, Yazid Ibn ‘Abdul MAlik ingin mengangkat putranya al-WAlid sebagai putra mahkota. Namun saat itu WAlid II masih belum cukup usia. Yazid terpaksa mengangkat saudaranya Hisham Ibn ‘Abdul MAlik sebagai penggantinya, sedangkan al-WAlid sebagai putra mahkota kedua. Kenyataannya Yazid masih hidup hingga putranya cukup usia. Karena terikat dengan janjinya, Yazid sangat menyesal sudah terlanjur mendahulukan saudaranya dari pada anaknya sendiri. Setlah wafatnya Yazid, otomatis Hisham naik tahta, dari sinilah awal terjadinya pertentangan antara Hisham dengan keponakannya al-WAlid.

Ahmad Salaby, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2 (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1995), 131

Q.S. Ibrahim: 15

Philip K. Hitti, History of The Arabs,284-285

Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulat Umayyah I di Damaskus, 216-217

Didin Saefuddin Buchori, Sejarah Politik Islam, 69-70

W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam, terj. Hartono Hadikumoro (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), 57

Didin Saefuddin Buchori, Sejarah Politik Islam, 67-70


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexing by :