DEMOKRASI PERSPEKTIF ISLAM Syûrâ dan Kebebasan Berpendapat Studi Kasus Demokrasi di Indonesia

Japarudin Japarudin

Abstract


Tidak dapat dipungkiri, perbincangan dan kajian tentang demokrasi dan kebebasan berpendapat, telah banyak dilakukan. Berbagai perspektif dan pendekatan dalam pengakajian keduanya semakin memperkaya khasanah topik ini. Meskipun demikian, kajian ataupun artikel ini melengkapi beberapa kajian yang telah ada sebelumnya, utamanya pembahasan tentang hubungan, titik temu, perbedaan, maupun dialog antara demokrasi dalam Islam versus demokrasi produk Barat. Islam memberikan kebebasan berpendapat, dan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar dunia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi dalam bentuk negara republik. Uniknya demokrasi di Indonesia mencoba menggabungkan antara demokrasi Barat dengan demokrasi dan kebebasan berpendapat dalam Islam. Semua warga negara berhak mengeluarkan pendapat, dan Indonesia memiliki dewan (syura). Perpaduan antara demokrasi Barat dan sistem syuro dalam Islam, merupakan fokus kajian artikel ini.


Keywords


Demokrasi, Syuro, Kebebasan Berpendapat

Full Text:

PDF

References


Istilah ini terdapat pada system demokrasi parlementer seperti di Indonesia. Istilah ini dikenal juga dengan pemilihan umum, yakni pemilihan presiden ataupun pemilihan wakil rakyat di legislative.

Pengertian musyawarah dalam bahasa Indonesia berarti ‘pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah; perundingan’ lihat Depdiknas RI. Kamus Besar bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 768.

Muhammad Iqbal. Fiqh Siayasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), hlm. 184.

Muhammad Abed al-Jabiri. Syura; Tradisi-Prtikularitas-Universalitas, terj. Mujiburrahman (Yogyakarya: LKiS, 2003).

Hassan Al-Alkim. “Islam dan Demokrasi; Saling Memperkuat Atau tidak Kompatibel” dalam Bernard Lewis, et.al. Islam Liberalisme Demokrasi terj. Mun’im A. Sirry (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm.183

Kronologis peristiwa ini dapat dibaca dalam Jamal Albana. Runtuhnya Negara Madinah, Islam Kemasyarakatan Versus Islam Kenegaraan, terj. Jamadi Sunardi dan Abdul Mufid (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), hlm. 56 -62. Baca juga Idris Thaha. Demokrasi Religius Pemikiran Politik Nurcholis Madjid dan M. Amien Rais, (Jakarta: Teraju, 2005), hlm. 52-56.

Masykuri Abdillah. Demokrasi di Persimpangan Makna Respon Intelektual Muslim Indonesia terhadap Konsep Demokrasi 1966-1993, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999), hlm. 80-83.

Afan Gafar. “Islam dan Demokrasi; Pengalaman Empiric yang Terbatas” dalam Bernard Lewis, et.al. Islam Liberalisme Demokrasi terj. Mun’im A. Sirry (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm. 120.

Muhammad Abdul Qadir Abu Fariz. Sistem Politik Islam, trans. Musthalah Maufur (Jakarta: Robbani Press, 2000), hlm. 53-54.

Kuntowijoyo. Identitas Politik Umat Islam, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 96.

Yusuf Qardhawy. Fiqh Negara; Ijtihad Baru Seputar Sistem Demokrasi Multi Partai, Keterlibatan Wanita di Dewan Perwakilan, Partisipasi dalam Pemerintahan Sekuler, terj. Syafril Halim (Jakarta: Robbani Press, 1999), hlm. 167.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexing by :