PETA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DAN MANAJEMEN KONFLIK DI KOTA BENGKULU

Wira Hadikusuma

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk  untuk mengetahui peta kerukunan dan ketidakrukunan serta manajemen konflik yang dilakukan terhadap konflik yang terjadi pada masyarakat Kota Bengkulu. Penelitian ini menghasilkan bahwa pola kerukunan umat beragama di kota Bengkulu dapat dikategorikan sebagai kerukunan pasif, yaitu kerukunan antar umat beragama berjalan lebih dominan dibandingkan dengan ketidakrukunan umat beragama di kota Bengkulu. Karena pada sepuluh tahun terakhir hanya 6 kasus saja. Hal itu, antara lain, pertama, peran tokoh agama dalam membangun komunikasi keagamaan di berjalan lancar dan baik. Kedua, kesadaran masyarakat dan Dukungan pemerintah kota Bengkulu. Ketiga, tingkat pendidikan dan wawasan masyarakat Kota Bengkulu relatif baik, sehingga pendidikan mampu mendewasakan dan mengubah cara pandang masyarakat dalam menyelesaikan konflik. Keempat, peran adat istiadat masyarakat kota Bengkulu yang memiliki falsafah damai dibandingkan konflik.  Bagi masyarakat kota Bengkulu yang memiliki karakter dasar afiliasinya “taat pada pemimpin dan adat” tentu saja, peran para pemimpin dan peran pemuka agama menjadi sangat berpengaruh bagi mereka yang dipimpinnya. Adapun manajemen konflik yang dilakukan oleh masyarakat, pemerintah dan pemuka agama adalah dialog, mediasi dan konsensus, transformasi konflik dan membangun konflik konstruktif.


Keywords


Kerukanan, Umat Beragama, dan Manajemen Konflik.

References


Ahmad Syahid, Peta Kerukunan Umat Beragama Propinsi Bengkulu” dalam Riuh Di Beranda Satu Peta Kerukunan Umat Beragama Di Indonesia, Jakarta: Depag RI, 2002.

Al Munawar, Said Agil Husin, Fikih Hubungan AntarAgama, Jakarta : Ciputat Press, 2005, cet. III

Bhikhu Parekh, Politics, Religion & Free Speech in Rethinking Multiculturalism: Cultural Diversity and Political Theory, Cambridge, Massachutts: Harvard University Press, 2002

Fisher, Simon et all, Mengelola Konflik: Ketrampilan & Strategi untuk Bertindak (edisi bahasa Indonesia), Jakarta: The British Council. Indonesia, 2000.

Hendriks, William, Bagaimana Mengelola Konflik. Jakarta: Bumi Aksara, 2001.

Horton B. Paul dan Chaster L. Hunt, Sosiologi Jilid I, Jakarta: Erlangga, 1996.

Imam Priyo Handoko, “Upaya Menjadikan Dunia Lebih Indah,” Kompas, Rabu 15 Februari 2006.

Jamhari, Organisasi Keagamaan dan Penguatan Sipil Society, Harmoni: Jurnal Multikultural dan Multi Religius, Vol. 1, No. 03, Juli- Agustus 2002.

Judy Carter dan Gordon S. Smith, Religious Peacebulding: From Potential to action, within Harold Coward nad Gordon S. Smith (Eds), Religion and peace Building Albany: State University on New York Press, 2004

Lederach, Jhon Paul, Conflict Transformation, USA: Good Book, 2003.

Luthans F, Organizational Behavior. Singapore: Mc Graw Hill, 1981.

Minnery, John R., Conflict management in urban planning. England: Gower Publishing Company Limited, 1985.

Nurhayati Djamas, “Pluralisme Agama dalam Komunitas Islam-Katholik: Studi Kasus di Kelurahan Pinang, Cipondoh, Tangerang” Harmoni Jurnal Multikultural dan Multireligious, Volume I, Nomor 2, April-Juni 2002.

Parson, Talcott, “Religion and The Problem of Meaning” dalam Rolan Roberston (ed) Sociology of Religion London- Middlesex: Penguin

Robbins, SP, Organizational Behaviour. Siding: Prentice Hall, 1979

Ross, Marc Howard Ross, The management of conflict: interpretations and interests in comparative perspective. Yale University Press, 1993.

Said Agil Husin Al Munawar, Fikih Hubungan AntarAgama, Jakarta : Ciputat Press, 2005, cet. III.

Wahyudi, Manajemen Konflik dalam Organisasi: Pedoman Praktis bagi Pemimpin Visioner. Bandung: Alfabeta, 2006.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexing by :