Sawer: Simbol Komunikasi Kultural Penyanyi dan Penonton

M. Ali Sofyan

Abstract


Realitas sawer dan dangdut memiliki makna cukup dalam jika disimak keinginan yang ingin didapatkan sang penyawer. Runtuhnya kelas terjadi dalam ruang antara personel musik dan penyawer. Sawer layaknya tiket masuk untuk berkuasa atas kedekatan dengan penyanyi. “uang saweran” mampu menghilangkan identitas dan profesi penyawer karena bagi mereka buruh pabrik pun tak segan menyawer dengan catatan dia suka. Sebelum “ritual” sawer berlangsung panggung adalah milik bersama dan dapat dinikmati publik. Saat penyawer naik panggung dan memulai transaksinya seketika itu lah panggung berhasil direbut. Hanya sisa sebagian saja milik penonton lain, karena bagi penyawer merebut panggung terjadi saat interaksi dilakukan dengan penyanyi. Kuasa aktualisasi diri dapat ditumpahkan dan seolah ketidakpedulian akan kondisi sekitar luntur. 

Merebut panggung dilakukan sebagai konsumsi pemenuhan kebutuhan akan panggung. Moral dalam ideologi dan sistem komunikasi, struktur pertukaran adalah termasuk konsumsi (Baudrillard, 2013). Komunikasi kultural ditambahkan oleh penyanyi dengan penyawer dan penyawer dengan penonton. Eksistensi dipertontonkan penyawer di atas panggung kepada semua penonton bahwa dia dapat merebut kuasa. Komunikasi non verbal ini adalah interpretasi perilaku dan simbol sebagai akibat pembobolan ruang. Akhirnya, orang melihat dangdut wajib hukumnya dengan sawer. Transformasi kelas, perebutan panggung dan pertunjukan komunikasi kultural adalah salah satu faktor penyebab orang suka dengan sawer.

 

Kata kunci : Sawer, Kultur, Penyanyi, Penonton, Kelas Sosial

Full Text:

PDF

References


Abdullah, Irwan. 2010. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Barker, Chris. 2011. Cultural Studies, Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Baudrillard, Jean. 2013. Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Featherstone, Mike. 2008. Posmodernisme dan Budaya Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

____________. 1983. Abangan, Santri, Priyayi. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial.

Heryanto, Ariel. 2015. Identitas dan Kenikmatan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Ibrahim, Idi Subandy & Bachruddin Ali Akhmad. 2014. Komunikasi & Komodifikasi, Mengkaji Media dan Budaya dalam Dinamika Globalisasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Nugroho, Heru. 2001. Uang, Rentenir dan Hutang Piutang di Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sarup, Madan. 2011. Postrukturalisme dan Posmodenisme. Yogyakarta: Jalasutra.

https://www.youtube.com/watch?v=welkhWQ_Ww4 dilihat pada 10 Juni 2015. Pukul 20:52 WIB.

http://kbbi.web.id/sawer dilihat pada 10 Juni 2015. Pukul 21:34 WIB.




DOI: http://dx.doi.org/10.1161/mhj.v5i3.731

DOI (PDF): http://dx.doi.org/10.1161/mhj.v5i3.731.g648

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexing by :

    

_______________________________________________

Creative Commons License
Jurnal Madania ini diterbitkan oleh IAIN Bengkulu dan Disebarluaskan dengan perijinan dibawah Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License..

__________________________________________________

MANHAJ: JURNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT
Institut Agama Islam Negeri Bengkulu
Jl. Raden Fatah, Pagar Dewa Kota Bengkulu 38211
Bengkulu, Sumatra Indonesia