“HOMOSEKS KETEMU TUHAN”: RESISTENSI KAUM GAY DAN PERTAHANAN RELASI HOMOSEKSUALITAS DALAM FIKSI POPULER INDONESIA

Andriadi Andriadi

Abstract


Ranah agama sering dijadikan dasar dan ujung tombak penolakan masyarakat terhadap eksistensi kaum homoseksual sehingga dipakai untuk menyerang, bahkan menghakimi kaum marjinal inidemi kestabilan kognisi sosial, sikap, dan norma masyarakat untuk menolak segala bentuk homoseksual.Pemberian tekanan sosial semacam ini agar kaum “menyimpang” bertobat dan melakukan komformitas untuk tunduk kepada norma agama dan sosial yang berlaku. Alih-alih tunduk, mereka malah berusaha  melakukan berbagai resistensi untuk mempertahankan relasi homoseksualnya agar diterima di tengah kuasa nilai-nilai heteronormativitas masyarakat seperti layaknya kaum heteroseksual. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui representasi relasi pasangan gay dalam novel Homoseks Ketemu Tuhan Karya Rini Kristina sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai interaksi-interaksi antara sesama kaum ini ditengah masyarakat yang penuh dengan kontrol norma, adat, budaya, dan agama yang cenderung memarginalkan mereka; (2) mengetahui resistansi yang mereka lakukan dalam mempertahankan identitas seksualnya sebagai pecinta sesama jenis sehingga kehadiranya dapat diterima.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tekstual analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kaum homoseksual mengenal sebuah kesepakatan untuk menjalin sebuah relasi layaknya relasi yang dijalani oleh pasangan heteroseksual, saling mencintai dan mengisi satu sama lain. Relasi homoseksual yang dapat ditemukan dalam novel ini yaitu: monogami, poliamori, dan Teman Tapi Mesra (TTM). Namun semua relasi tersebut tidak akan pernah abadi dan tetap lebih cenderung pada pemenuhan kebutuhan seks sesama jenis; (2) untuk mempertahankan relasi homoseksual yang bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat, kaum gay melakukan resistensi dengan cara menjalankan kehidupan yang penuh dengan kepalsuan (in the closet),dan menjalankan kehidupan dengan identitas bikultural yaitu mengenakan topeng yang menampilkan dirinya sebagai pria heteroseksualbahkan menikahi perempuan dan memiliki keluarga demi menghindari tekanan sosial.


Full Text:

PDF

References


Ajen, D. (2006). Pendidikan Sex dan Heteronormativiti. Jakarta: Pt Kawan Pustaka.

Barry, P. (2010). Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya: Beginning Theory. Yogyakarta: Jalasutra.

Dianawati. (2006). Intisari psikologi abnormal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Feldmen, R. S. (1999). Understanding psychology the Fifth Edition. New York: Mc Graw-Hill Publishing Company.

Harek, M.(2010), “Selected Publications on Sexual Prejudice and Homophobia,”

Kristina, R. (2011). Homoseks Ketemu Tuhan. Yogyakarta: Jaringan Santri Menulis dan Kreasi Wacana.

Oetomo, D. (2013). Memberi Suara pada yang Bisu. Yogyakarta: Pustaka Marwa.

Rakhmahappin, Y & Prabowo, A. (2014). Kecemasan Sosial Kaum Homoseksual Gay dan Lesbian, JIPT (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan), Vol. 2, No. 2, 2014, H. 201.

Rahayu, P., Satriana, R & Mahaswara, H.A. (2015). Aplikasi Gay: Perjuangan dan Ruang Negosiasi Identitas bagi Kaum Gay Muda di Yogyakarta, Jurnal Studi Pemuda, Vol. 3, No.2, 2014, H. 99.

Sedgwich, E. K. (1990). Epistemology of the Closet. Los Angeles: University of California Press.

Stein, A. (1994). “I Can’t Even Think Straight” “Queer” Theory and the Missing Sexual Revolution in Sociology. Sociological Theory, Volume 12, No. 2.

Tejalaksana, R. (2009). Kaum Homoseksual: Para Korban yang Terlupakan. Retrieved on June 18, 2019 from http://his-shelter-community.blogspot.com/2009/12/kaum-homoseksual-para-korban-yang.html.

Zainuri, M.I. (2018). Analisis Perilaku Homoseksual pada Mahasiswa STKIP Kota Bima. PPS Universitas Negeri Makassar.




DOI: http://dx.doi.org/10.29300/hawapsga.v1i2.2602

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

 

 

 

View My Stats

Google ScholarGaruda

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.