Sejarah Tradisi Pantauan Mangkal Luagh di Kedurang dan Relevansinya dengan Pembelajaran Sejarah di SMA

Fenny Desmi Widyastuti, Een Syaputra, Gaya Mentari

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rekonstruksi sejarah tradisi pantauan mangkal laugh pada masyarakat Kedurang, Bengkulu Selatan dan menganalisis relevansinya dengan pembelajaran sejarah di SMA. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahap utama, yakni heuristic, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) tradisi pantauan mangkal laugh meruoakan tradisi yang berakar pada tradisi pantauan yang ada di daerah Besemah, Pagar Alam. Tradisi pantauan mangkal laugh sudah ada di Kedurang sejak lama, setidaknya sejak zaman sebelum Indonesia merdeka; 2) sejak pertama kali dilakukan hingga saat ini, tradisi pantauan mangkal laugh sudah mengalami tiga kali perubahan bentuk. Perubahan tersebut terjadi terutama dalam hal jumlah pelaksana dan bentuk pelaksanaan Mangkal Luagh; 3) dalam kaitannya dengan pembelajaran sejarah di SMA, untuk mata pelajaran Sejarah Indonesia tidak ada satupun materi yang secara langsung bersinggungan dengan tradisi Pantauan mangkal Lugah. Hal ini karena tradisi mangkal laugh tidak memiliki irisan dengan tradisi zaman pra sejarah, Hundu-Budha, Islam atau zaman pengaruh Barat. Akan tetapi, tradisi mangkal laugh dapat diintegrasikan pada pembelajaran sejarah minat, terutama pada tema berpikri sejarag, sumber sejarah, dan metode penelitian sejarah untuk kelas X tema perkembangan budaya zaman orde baru dan reformasi untuk kelas XII. 


Keywords


Tradition, Pantauan Mangkal Luagh, Kedurang, History Learning.

Full Text:

PDF

References


Agung, L. (2015). Sejarah Kurikulum Sekolah Menengah di Indonesia Sejak Kemerdekaan Hingga Reformasi. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Arios, R.L. (2019). Pertukaran Sosial pada Tradisi Pantauan Bunting pada Suku Besemah di Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan. Patanjala, 11 (3), 467-482.

Effendi, T.N. (2013). Budaya Gotong Royong Masyarakat dalam Perubahan Sosial Saat Ini. Jurnal Pemikiran Sosiologi, 2 (1), 1-18.

Gottscalk, L. (2005). Mengerti Sejarah. Terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press

Hasan, S. H. 2013. History Education in Curriculum 2013: A New Approach to Teaching History. HISTORIA: International Journal of History Education, 24 (2) 163-178

Hidaya, Z. (2015). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kuntowijoyo. (2013). Pengantar Ilmu Sejaragh. Yogyakarta:

Kusnanto, R.A.B., & Firduansyah, D. (2022). Analisis Nilai-Nilai Budaya Pantauan di Kota Pagar Alam. Sitakara: Jurnal Pendidikan Seni dan Seni Budaya, 7 (1), 74-83.

Restatiwi, O. (2016). Sejarah Tradisi Mangkal Luagh di Desa Muara Tiga Kedurang. Skripsi. FUAD IAIN Bengkulu.

Sari, I.P., Syawaludin, M., & Khudin, S. (2021). Tradisi Pantauan Bunting dalam Perkawinan Masyarakat Desa Sukarami Pagaralam. Tanjak: Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam, 1 (2), 10-20.

Satria, I., Salamah., & Syaputra, E. (2022). Modul Kearifan Lokal Tabut untuk Mata Pelajaran IPS SMP Kelas VII. Surakarta: Shakha Insan Pustaka.

Setiyanto, A. (2015). Gerakan Sosial di Bengkulu Abad XIX: Peran Elit Tradisional dan Elit Agama. Yogyakarta: Ombak.

Sholeh, N.O.M. (2021). Kearifan Lokal dalam Pranata Sosial Mangkal Luagh pada Masyarakat Besemah di Bengkulu. Skripsi. FKIP Universitas Bengkulu.

Sholeh, N.O.M., Agustina, E., & Sarwono, S. (2022). Kearifan Lokal dalam Pranata Sosial Mangkal Luagh pada Masyarakat Besemah di Bengkulu. Jurnal Ilmiah KORPUS, 6 (1), 16-27.

Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Suan, A.B., Pascal, EK., & Herpansi, Y. (2008). Besemah Lampik Mpat Mardike Due. Pagaralam: Pesake-Pemko Pagaralam.

Syaputra, E., Sariyatun., & Sunardi. (2017). Socio Cultural Values in Selimbur Caye Oral Tradition in Pasemah Ethnic Bengkulu. Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR), 158, 228-236.

Syaputra, E. (2019). Pandangan Guru Terhadap Integrasi Keraifan Lokal dalam Pembelajaran Sejarah: Studi Deskriptif di Beberapa SMA di Bengkulu Selatan dan Kaur. Indonesian Journal of Social Science Education, 1 (2), 1-10. DOI: http://dx.doi.org/10.29300/ijsse.v1i1.1321

Syaputra, E., & Sariyatun, S. (2020). Pembelajaran Sejarah di Abad 21 (Telaah Teoritis terhadap Model dan Materi). Yupa: Historical Studies Journal, 3(1), 18-27. https://doi.org/10.30872/yupa.v3i1.163

Syaputra, E. (2021). Tradisi Lisan Sebagai Bahan Ajar: Membentuk Karakter dan Melestarikan Budaya. Masyarakat dan Budaya, 20 (16), 12-14.

Syaputra, E., Mentari, G., & Nugraha, B.A. (2022). Training of Trainer (ToT) Pengajaran dan Baca Tulis Aksara Kaganga Bagi Guru dan Penggiat Budaya di Provinsi Bengkulu. Jurnal Praksis dan Dedikasi (JPDS), 5 (1), 21-29.

Thomson, P. (2012). Suara dari Masa Silam: Teori dan Metode Sejarah Lisan. Terj. Windu W Yusuf. Yogyakarta: Ombak




DOI: http://dx.doi.org/10.29300/ijsse.v5i2.11144

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2023 Fenny Desmi Widyastuti, Een Syaputra, Gaya Mentari

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Indonesian Journal of Social Science Education (IJSSE)
Lantai 2 Gedung Pelatihan 
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Jl. Raden Fatah Kel. Pagar Dewa Kec. Selebar Kota Bengkulu

P-ISSN 2655-6588
E-ISSN 2655-6278

jurnal_jpipsi@iainbengkulu.ac.id

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.