Understanding Sufism and Islamic Jurisprudence Reasoning in the Term of Religious Moderation: Perennial Philosophical Perspective

Ismail Ismail

Abstract


The truth claim phenomenon in understanding religious teachings often occurs in human life. It needs to be avoided by finding solutions. This article aimed to comprehend religious teachings using the reasoning of Sufism and Islamic jurisprudence (Fiqh) in a balanced way in order to avoid distorted understanding due to the interpretation of different religious teachings. Sufism and Fiqh reasoning are described in order to explain the meeting point between them. Sufism historically has developed since the beginning of Islam (I and II centuries H/8 AD), as well as Fiqh has developed through four periods, namely the Prophet, the Companions (al-Khulafâ' al-Râsyidîn), the Ijtihad, and the Taklid period. Life requires a moderate attitude in religion. The practice of Sufism empirically is considered as a cure for mental suffering in the midst of a materialistic-hedonistic humanitarian crisis. On the other hand, the practice of Fiqh focuses on the issue of haliyah-`amliyah-furu`iyah ijtihad. At the empirical level, Sufism and Fiqh are interrelated and integrated. Therefore, there is always a meeting point that unites Sufism and Fiqh reasoning. Quoting the opinion of Imam Shafi`i "wa man jama`a bainahuma tahaqqaqa", whoever practices the two together (Sufism and Fiqh), he has correctly carried out religious teachings.

 

Fenomena klaim kebenaran (truth claim) dalam memahami ajaran agama kerap kali terjadi dalam kehidupan manusia. Hal ini perlu dihindari dan perlu dicari solusinya. Artikel ini bertujuan memahami ajaran agama menggunakan nalar tasawuf dan nalar fikih dengan imbang guna menghindari pemahaman menyimpang akibat penafsiran ajaran agama yang berbeda. Nalar tasawuf dan nalar fikih dideskripsikan guna menjelaskan titik temu antara antar keduanya.  Secara historis, tasawuf telah berkembang sejak awal kelahiran Islam (abad I dan II H/8 M), begitu pula fikih berkembang melalui empat periode yaitu periode Nabi, periode Sahabat, periode ijtihad dan perode taklid. Kehidupan saat ini, dibutuhkan sikap moderat dalam beragama. Secara empirik, praktek tasawuf dianggap sebagai obat penyembuh penderitaan batin di tengah-tengah krisis kemanusiaan yang serba materialistik-hedonistik. Di sisi yang lain, praktek fikih menitikberatkan pada persoalan ijtihad yang bersifat haliyah-`amliyah-furû`iyah. Dalam tataran empiris antara tasawuf dan fikih keduanya saling berkait dan terintegrasi. Karenanya, antara nalar tasawuf dan nalar fikih selalu ada titik temu yang menyatukan antara keduanya.  Mengutip pendapat Imam Shafi`i “wa man jama`a bainahuma tahaqqaqa”, siapa yang mengamalkan antara keduanya secara bersama-sama (tasawuf dan fikih) maka ia telah menjalankan ajaran agama dengan benar.


Keywords


meeting point; sufism reasoning; fiqh reasoning.

Full Text:

PDF

References


Abdullah, M. Yatimin, Studi Islam Kontemporer, Pekanbaru: Penerbit AMZAH, 2004.

Adawiah, Rabiatul, “Islam Dan Moderasi Beragama”, https://www.uin-antasari.ac.id/islam-danmoderasi-beragama/, accessed Jan 24, 2021

Ahmad, Noor et.al, Epistemologi Syara’ Mencari Format Baru Fiqh Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Akhmadi, Agus, "Moderasi Beragama dalam Keragaman Indonesia, "Inovasi-Jurnal Diklat Keagamaan, vol. 13. No. 2, 2019.

Ali, Yunasril, Pengantar Ilmu Tasawuf, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987.

Amin, Husna, “Makna Agama sebagai Tradisi dalam Bingkai Filsafat Perennial”, Jurnal Filsafat, vol. 22, no. 3, Desember 2012.

AS, Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.

Azra, Azyumardi, “Neo-Sufisme dan Masa Depannya”, in Muhammad Wahyuni Nafis (Ed), Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam, Jakrta: Paramadina, 1996.

Baharudin, M., "Filsafat Perenial Sebagai Alternatif Metode Resolusi Konflik Agama Di Indonesia." Jurnal Theologia, vol. 25, no. 1, 2014.

Baldick, Julian, Islam Mistik: Mengantar Anda ke Dunia Mistik, Trans, Satrio Wahono, Jakarta: Serambi’ 2002.

Bantani, Syekh Nawawi al, Salalim al-Fudhala’, Demak: Penerbit Pesantren Pilang Wetan, t. th.

Basyuni, Ibrahim, Nasy’ah at- Tashawwuf al-islami, Kairo: Dar al-Fikr, 1969.

Ghazali, Al-, Ihya’ Ulum ad-Din, Beirut:Dar al-Kutub, tt, Juz 4.

Hidayat, Komaruddin and Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial, Jakarta: Paramadina,1995.

Huda, Sokhi, Tasawuf Kultural Fenomena Shalawat Wahidiyah, Yogyakarta: LKiS, 2008.

“Jejak Moderasi Beragama dalam Perspektif Islam”, https://www.kompasiana.com/titrin

kartikasari3893/5fcb3b458ede487f3962a1c2/ jejak-moderasi-beragama-dalam-perspektifislam,

accessed Jan 24, 2021

Jamil, M., Cakrawala Tasawuf: Sejarah, Pemikiran dan Kontekstualitas, Jakarta: Gaung Persada, Press, 2004.

Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia, 1997, 3rd edition.

Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Dian Rakyat, 2008.

Mahmud, Abd al-Halim, Qadhiyah fi at-Tashawuf, Kairo: Maktabah al-Qohiroh, t.t.

Naisbit, John, and Patricia Aburdence, Megatrends 2000, Ten New Direction for the 1990; New York: Avon Book, 1991.

Nasution, Harun, Islam Rasional, Bandung: Mizan, 1995.

Nata, Abudin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2000, 1st print.

Ni’am, Syamsun, Tasawuf Studies: Pengantar Belajar Tasawuf, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014. Nur, Muhamad, "Kontribusi Filsafat Perenial Dalam Meminimalisir Gerakan Radikal." KALAM, vol. 9. No. 2, 2015.

“Pentingnya Moderasi Beragama di Indonesia”, https://lajnah.kemenag.go.id/berita/538pentingnya-moderasi-beragama-di-indonesia, accessed Jan 15, 2021

Penyusun, Tim, Pengantar Ilmu Tasawuf, Medan: Proyek Ditbinperta IAIN Sumatera Utara, 1981-1982.

Permata, Ahmad Norma, Perennialisme Melacak Jejak Filsafat Abadi, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996.

Qusyairi, Al-, Ar-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm a-Tasawwuf, Beirut: Dar al-Khaoir, t.t.

Siraj, Said Aqil, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi, Bandung: Mizan, 2006.

Suwarjin, “Relasi Fikih Dan Tasawuf Dalam Pemikiran Syekh Nawawi Banten”, El-Afkar, vol. 6, no. 1, 2017.

Taftazani, Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-, Sufi dari Zaman ke Zaman, transl, Ahmad Rafi` Usmani, Bandung: Pustaka, 2003.

_____, Madkhal ila at-tasawwuf al-Islami, Kairo: Dar ats-Tsaqafah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1983.

Umar, Ibnu Mahalli Abdullah, Perjalanan Rohani Kaum Sufi, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2000.

Yamani, Ahmad Zaki, Asy-Syari’atul Khalidah wal Musykilatul ‘Asr, transl, K.M.S. Agustjik, Syari’at Islam yang Kekal dan Persoalan Masa Kini, Jakarta: Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan, Yayasan Bhineka Tunggal Ika, 1978.

Zahrah, M. Abu and Abdul Wahab, Ushul al-Fikih, Mesir: Dar Al-Ulum




DOI: http://dx.doi.org/10.29300/madania.v25i1.4567

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Indexing by :

_______________________________________________

Creative Commons License

Jurnal Madania ini diterbitkan oleh IAIN Bengkulu dan Disebarluaskan dengan perijinan dibawah Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

__________________________________________________

MADANIA: JURNAL KAJIAN KEISLAMAN
Institut Agama Islam Negeri Bengkulu
Jl. Raden Fatah, Pagar Dewa Kota Bengkulu 38211
Bengkulu, Sumatra Indonesia

 Lihat Statistik

View MyStat