Makna Simbol Ingkung dan Sego Wuduk dalam Tradisi Selamatan Kematian di Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara

Eka Sumardi

Abstract


Mayoritas masyarakat Jawa setiap ada peristiwa kelahiran, perkawinan, kematian mengadakan acara selamatan dalam bentuk doa bersama. Hal yang paling sering adalah selamatan kematian  oleh masyarakat Putri Hijau, terdiri dari: Geblag (selamatan setelah jenazah dimakamkan), Telung Dinan (setelah tiga hari ),Pitung Dinan (setelah tujuh hari ), Patang Puluh Dinan (setelah empat puluh hari), Nyatus Dinan (setelah seratus hari ), Pendak (setelah satu tahun ), Sewon (setelah seribu hari). Selamatan kematian terdapat sajian yang khusus dan wajib ada yakni sajian ingkung dan sego wuduk. Sajian ingkung dan sego wuduk, identik sebagai sajian yang wajib ada untuk memperingati meninggalnya seseorang. ). Rumusan masalah riset ini adalah a). Apa makna simbol Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) di desa Karang Pulau? b). Bagaimana makna simbol Ingkung dan sego wuduk dianalisis  menggunakan semiotika Roland Barthes? c). Bagaimanakah nuansa teologi dalam simbol Ingkung dan sego Wuduk  dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) ? Adapun tujuan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut : a). Mendiskripsikan  makna simbol Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) di desa Karang Pulau; c). Mendiskripsikan  makna simbol Ingkung dan sego wuduk dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes. c). Mendiskripsikan  nuansa teologi  pada Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan). Pada  metode  penelitian  ini, peneliti  melakukan  metode  penelitian  secara kualitatif. Hasil dari riset ini adalah masyarakat desa Karang Pulau dari golongan tua atau kelas menengah kebawah  masih  mempercayai    ingkung dan sego wuduk  sebagai simbol  dalam  selamatan  kematian (tahlilan)  sampai  sekarang.  Sedangkan  masyarakat  dari  golongan  muda atau golongan kelas menengah ke atas tidak langsung menerima simbol. Mereka melihat alasan dan kepentingan tentang adanya simbol  ingkung dan sego wuduk dalam selamatan kematian (tahlilan). Masyarakat desa Karang Pulau memaknai simbol ingkung dan sego wuduk sebagai lambang pengharapan pensucian dan pengampuan Allah maka setiap acara selamatan tahlilan wajib ada. Analisis  Barthes  pada  simbol  ingkung dan sego wuduk   dalam  selamatan  kematian(tahlilan) di desa Karang Pulau yakni analisis pertama secara denotatif   ingkung dan sego wuduk   merupakan   hidangan  tradisional  yang  berbentuk  ayam utuh dengan posisi seperti orang sedang duduk tawaru’  dan nasi  berwarna putih yang terasa khas.Analisis kedua secara konotatif dapat dikatakan  ingkung dan sego wuduk berarti  pengharapan pensucian ,ampunan kepada orang yang telah meninggal sehingga wajib ada   dalam  selamatan  kematian  (tahlilan


Keywords


Ingkung, Sego Wuduk, Makna Simbol

Full Text:

PDF

References


Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012

Azwar Saifuddin, Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001

Aart van Zoest, “Interpretasi Dan Semiotika”, Panuti Sudjiman dan Aart van Zoest (et.al), Serbaserbi Semiotika, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996

A.lex Sobur, Semiotika Komunikasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016

Arthur Asa Berger, Tanda-tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer, (terj) M. Dwi Marianto, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya 2000

Ahmad Kholil, Agama Kultural Masyarakat Pinggiran, Malang: UIN Maliki Press, 2011

Budiono Kusumohamidjojo, Filsafat Kebudayaan Proses Realisasi Manusia, Yogyakarta: Jalasutra, 2017

Fransiskus Simon, Kebudayaan Dan Waktu Senggang, Yogyakarta: Jalasutra, 2006

Kurniawan, Semiologi Roland Barthes, Magelang: Yayasan Indonesiatera, 2001

Kaelan, Filsafat Bahasa dan Hermeneutika, Yogyakarta: Paradigma, 2017

Koenjtaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004

Kartono Kamajaya Partokusumo, Kebudayaan Jawa Perpaduannya Dengan Islam, Yogyakarta: Ikapi DIY, 1995

Kris Budiman, Semiotika Visual, Yogyakarta: Jalasutra, 2011

Marcel Danesi, Pesan, Tanda Dan Makna, (terj) Evi Setyarini dan Lusi Lian Piantari, Yogyakarta: Jalasutra, 2012

Munawir Abdul Fattah, Tradisi-tradisi Orang NU, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006

Ma’ruf Asrori , Jawaban Amaliah yang di Bid ‘ahkan ,Surabaya,Al Miftah, 2013

Nasution S, Metode Research, Jakarta: Bumi Aksara, 1996

Purwadi, Upacara Tradisional Jawa Menggali Untaian Kearifan Lokal, Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2005

Roland Barthes, “Mythologies”. Terj. Membedah Simbol-simbol, Yogyakarta: Jalasutra, 2007

Roland Barthes, Elemen-elemen Semiologi, (terj) Kahfie Nazaruddin, Yogyakarta: Jalasutra, 2012

Roibin, Relasi Agama dan Budaya Mayarakat Kontemporer, Malang: UIN-MALANG PRESS, 2009

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2011

Simuh, Islam Dan Pergumulan Budaya Jawa, Jakarta: TERAJU, 2003




DOI: http://dx.doi.org/10.29300/mtq.v6i1.5182

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexing by :

 

        

 

 

_______________________________________________

 


_______________________________________________

Creative Commons License
Jurnal Manthiq ini diterbitkan oleh IAIN Bengkulu dan Disebarluaskan dengan perijinan dibawah Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License..

__________________________________________________

MANTHIQ: JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM
Institut Agama Islam Negeri Bengkulu
Jl. Raden Fatah, Pagar Dewa Kota Bengkulu 38211
Bengkulu, Sumatra Indonesia

 

View My Stats