Kriteria Saksi Adil dalam Peradilan menurut Ulama Syafi`iyah dan Hanafiyah

Toha Andiko, Masril Masril, Amelia Reza, Edi Mulyono, Aan Gunawan

Abstract


Salah satu syarat dalam peradilan adalah adanya saksi yang harus adil, yaitu yang menunaikan yang fardhu dan sunnah, menjauhi yang haram dan dimakruhkan. Namun beberapa ulama berbeda pendapat tentang persyaratan kriteria saksi ada yang berpendapat tidak mensyaratkan adil pendapat ulama Hanafiyah, dan ada yang berpendapat saksi harus adil  menurut pendapat ulama Syafi`iyah. Dari latar belakang persoalan tersebut timbul pertanyaan bagaimana kriteria saksi yang adil dalam Peradilan menurut pendapat ulama Hanafiyah dan Syafi`iyah ? dan  bagaimana analisis kriteria saksi yang adil dalam Peradilan menurut pendapat Ulama Hanafiyah dan Syafi`iyah? Adapun tujuan dari penelitian adalah  untuk mengetahui kriteria saksi yang adil dalam Peradilan menurut pendapat ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah dan untuk menganalisis kriteria saksi yang adil dalam Peradilan menurut pendapat ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka (library research), Untuk memperoleh data-data yang dipaparkan dalam penelitian ini penulis menggunakan data primer dan data skunder. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ulama Hanafiyyah yang mengatakan kriteria saksi adalah menegaskan dan menyaksikan kebenaran sedangkan ulama Syafi`iyah akriteria saksi adalah menjauhkan dosa besar, selamat aqidahnya dan dipercaya amarahnya.

 

One of the requirements in the judiciary is the presence of witnesses who must be fair, namely those who fulfill the fard and sunnah and stay away from the forbidden and the forbidden. However, some scholars have different opinions regarding the requirements for the criteria for witnesses. Some believe that it does not require the opinion of the Hanafi ulama to be fair, and some believe that witnesses must be fair in the opinion of the Syafi'iyah ulama. According to the background of the problem, the question arises what are the criteria for fair witnesses in the Court according to the Hanafiyah and Syafi`iyah ulama? The purpose of this research is to find out the criteria for a fair witness in Court according to the Hanafiyah and Syafi`iyah scholars and to analyze the criteria for a fair witness in Court according to the Hanafiyah and Syafi'iyah scholars. The type of research used is library research. The authors use primary and secondary data to obtain the data presented in this study. The results of this study conclude that the Hanafiyyah clerics say that the criteria for witnesses are to affirm and witness the truth, while the Shafi`iyah clerics' criteria are to keep away major sins, be safe in their aqidah and be trusted with their anger.


Keywords


kriteria; saksi; adil; peradilan; ulama Hanafiyah;ulama Syafi`iyah.

Full Text:

PDF

References


Abdul Aziz Dahlan (ed), Ensklopedi Hukum Islam, Jakarta: PT, Ichtiar Baru Von Hoeven. 2000

Abdul Mujieb, dkk, Kamus Istilah Fikih, Jakarta: Pustaka Perdana, 1994.

Alquran dan Terjemahannya, Semarang: CV. Asy- Syifa’, 1999.

Ahmad Hanafi, Pengantar dan Sejarah Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1989.

Dedi Supriadi, Perbandingan Mazhab dengan Pendekatan Baru, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008.

Firdaus, ‘Urf sebagai Dalil Istinbath Hukum Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2007.

Hasani, Riwayat Sembilan Imam Fikih, Bandung: Pustaka Hidayah Wujud, 2000.

Hasbi ash-Shiddiqy, Pokok-pokok Pegangan Imam Fikih, Semarang: Pustaka Rizki Putera, 1996.

Ibn ’Abidin, Radd al-Mukhtar ‘Ala al-Dar al-Mukhtar Syarh Tanwir al-Abshar, Libanon: Darul Kitabil ‘Alamiyati, 1980.

Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Terjemahan Abu Usamah Fakhtur Rokhman, Jakarta: Pustaka Azzam, 2007.

Ibn al-Atsir al-Jaziri, Jami’ al-Ushul Fi Ahaddits al-Rasul, Jilid 1, Bairut : Dar al-Fikr, 1983.

Lous Ma’luf Al-Yasu’i, al-Munjid Fi al-Lughah, Bairut : Dar al-Masyriq, 1986.

Muhammad Sa’id Mursi, Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang Sejarah, Jakarta: Pustaka Al-Katsar, 2008.

Muhammad Abu Zahra, Imam al Syafi’i (Biografi dan Pemikirannya dalam masalah aqidah, Politik, Fiqh) cet. I, Jakarta : Lentera 2007.

Mnna’ Al-Qaththan, Sejarah Legislasi Hukum Islam, Jakarta: Ummu Qura, 2017.

Muhammad, Abu Zahrah, Ushul Fiqih, Jakarta: PT PUSTAKA FIRDAUS, 2010.

Nasrun Haroun, Ushul Fiqh, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997.

Prof. Dr. Wahbah Zuhaili, Fiqih Imam Syafi’I, Serang: Al-Mahira, 2007

Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, Jakarta: Rajawali Pers, 2001.

Rasyid Arbanur, “Kesaksian Dalam Prespektif Hukum Islam”, Jurnal EL-QANUNIY, 6, no (1 januari 2020).

Romli SA, Muqaranah Mazahib Fil Ushul, Jakarta : Gaya Media Pratama, 1999.

Rachmat Syafe’I, Ilmu Ushul Fiqih, Bandung : Pustaka Setia, 2010.

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Terjemahan Abdurrahim dan Masrukhin, Jakarta: Cakrawala Publishing, 2009.

Sanafiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial, Jakarta: PT. Raja Grafindo arsada,2003.

Shiddiq al Minsyawl, 100 Tokoh Zuhud, Jakarta : Senayan Abdi Pblishing, 2007


Refbacks

  • There are currently no refbacks.






Indexing by :

_______________________________________________

Creative Commons License

Jurnal Mu'asyarah ini diterbitkan oleh Fakultas Syariah, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dan Disebarluaskan dengan perijinan dibawah Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

__________________________________________________

MU'ASYARAH: JURNAL KAJIAN HUKUM KELUARGA ISLAM
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Jl. Raden Fatah, Pagar Dewa Kota Bengkulu 38211
Bengkulu, Sumatra Indonesia