PENERAPAN SYARIAT ISLAM DALAM LINTASAN SEJARAH DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA

John Kenedi

Abstract


Indonesia is a country that  provides the widest  opportunity for its citizens to embrace and  run  the religious syariat.Sebagai country with the largest  Muslim population in the world, it is proper that the Muslim population dream of the realization of the application of Islamic Shari’ah in all joints of life. Application of Islamic Shari’a partially in every region of archipelago ever occurred during the reign  of the empire. Reflecting on past  successes, the same  effort con- tinues in various phases of the history  of the Indonesian nation from the era of independence to the Reformation era. Recorded various theories ever made by the legal experts with regard to the existence of Islamic Sharia  in the country. Starting from the theory of ReceptieinComplexu by van den Berg, followed  by Receptie and  Receptie Exit theory, each of which  was initiated by Snouck  Hurgronje and  Hazairin, to the  theory of Receptiea Contrario which  was born from the thought of Sajuti Thalib, including and Existence theory which became the concept of Islamic law enforcement in in the legal system of Indonesia. The latter theory is constantly being used in legitimizing the application of Islamic Sharia in Indonesia. Through the structural and  cultural approach coupled with the use of its supporting factors, there is still hope for Muslims to realize his ideals. Issuance of Regional Regulations with nuances of Islam is a tendency that is done by every region that envisions the enforcement of Islamic Shari’a. However, such structural approaches still have prob- lems which require a law that can be specifically used  as the basis for ensuring that Islamic Shari’a law can be applied

Keywords


Islamic Sharia, History of Indonesian Islamic Law, Positive Law

Full Text:

PDF

References


Abdul Gani Abdullah, Pengantar Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press,1994.

Abdul Ghafur Nashori, Peradilan Agama di Indo- nesia: Pasca UU No. 3 Tahun 2006 (Sejarah, Kedudukan, dan Kewenangan), Yogyakarta: UII Press, 2007.

Abdul Qadir bin Abdul Aziz, Murtad Karena Hukum, Klaten: Kafayeh, 2008.

Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana menurut Al- Qur’an, Jakarta: Diadit Media, 2007.

Ali Ahmad al-Jurjawi, Indahnya Syariat Islam:MengungkapRahasiadanHikmah di BalikPerintah- danLarangandalam Al-Qur’an danSunnah, Ja- karta: Pustaka Al-Kautsar, 2013.

Ali Athwa, Islam atauKristenkah Agama Orang Irian?, Jakarta: Pustaka Da’i, 2004.

Amrullah Ahmad dkk., Dimensi Hukum Islam da- lam Sistem Hukum Nasional, Jakarta: Gema Insani Press, 1996.

Balai PusatStatistik, Population of Indonesian, Ja- karta: BalaiPusatStatistik, 2001.

Deliar Noer, “Syariat Islam”,REPUBLIKA, 4 Septem- ber 2000.

Harsanto Nursadi, Sistem Hukum Indonesia, Jakar- ta: Universitas Terbuka, 2009.

Hazairin, Tujuh Serangkai Hukum Islam, Jakarta:Tintamas, 1974.

Rifyal Ka’bah, “Penegakan Syariat/Hukum Islam di Indonesia”, Majalah Hukum Varia Peradilan, Tahun XXIV, No. 285, Agustus 2009.

SajutiThalib, Receptio A Contrario: Hubungan HukumAdatdenganHukum Islam, Jakarta: Bi- naAksara, 1985.

Sirajuddin M., Legislasi Hukum Islam di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar &STAIN Bengkulu,2008.

Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam: Penegakan Syariat dalam Wacana dan Agenda,Jakarta : Gema Insani Press, 2003.

Yusril Ihza Mahendra, Dinamakan Tata Negara In- donesia, Jakarta: GemaInsaniPress.

Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2007.

Undang - undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Ketetapan MPRS Nomor XX/MPRS/1966 Tentang Memorandum DPGR Mengenai Sum- ber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Perundang-undangan Republik Indonesia.

Ketetapan MPR RI Nomor III/MPR/2000 Tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Perundang-undangan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 ta- hun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah yang telah dirubah dengan Undang-Undang Re- publik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 Ten- tang Pemerintahan Daerah. (pembanding).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 ta- hun 1999 Tentang PerimbanganKeuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang telah dirubah dengan Undang – Undang Republik Indonesia No- mor 33 tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pe- merintah Daerah (pembanding).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 ta- hun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Pe- rundang-undangan. (Ketiga Peraturan Perun- dang-undangan tersebut diatas hanya sebagai pembanding karena tidak berlaku lagi ).

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undan- gan.

Undang-Undang R.I Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang R.I Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

Tentang Pemerintahan Daerah.Undang-Undang R.I Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang R.I Nomor 2 Tahun 2014




DOI: http://dx.doi.org/10.29300/nuansa.v10i1.640

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Indexing by :
   
 

 

 Google ScholarIndonesia One Search

indexing by :

  

 

free web stats

Nuansa's Visitors