PROTES SOSIAL PETANI INDRAMAYU MASA PENJAJAHAN JEPANG (1942-1945)

Wahyu Iryana

Abstract


Abstrak: Protes Sosial Petani Indramayu Masa Penjajahan Jepang (1942-1945). Pelaku sejarah perlawanan menentang penjajahan Jepang umumnya terdiri dari ulama desa seperti Kiai Sualaiman, Kiai Srengseng, Haji Akhsan, Kiai Abdul Ghani (Kaplongan), Kiai Madrais (Cidempet), Kiai Muktar (Kertasmaya), Tasiah (Pranggong), Haji Dulkarim (Panyindangan Kidul), Sura (Sindang) dan Karsina (Slijeg). Kendati pun mereka berasal dari desa terpencil, namun mereka mampu memiliki rasa kebangsaan nasional yang terandalkan.Kenyataan sejarah yang demikian itu, memberikan gambaran bahwa penindasan penjajahan telah dirasakan beratnya oleh segenap bangsa Indonesia, dan penduduk hingga ke pelosok desa.Kesamaan sejarah yang dialaminya inilah, menjadi bahan dasar bila terjadi gerakan perlawanan terhadap Jepang, memperoleh dukungan dari rakyat walaupun di desa ataupun di daerah-daerah lain baik dipegunungan ataupun daerah pantai.Sekalipun hampir tak pernah ditulis dalam buku resmi sejarah, petani Indramayu sudah menorehkan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa.


Keywords


Kata Kunci: Protes, Indramayu, Petani.

Full Text:

PDF

References


Sartono Kartodirdjo dkk., Sejarah Nasional Indonesia, Jilid IV, (Jakarta: Balai Pustaka, 1974), hlm. 131.

Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, (Jakarta: Gramedia, 1997), hlm.75.

Joahim Wach, Comparative Study of Religion, (Colombia: Colombia University Press,1959), hlm.180.

Abdul Djamil, Perlawanan Kiai Desa KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, (Yogyakarta: LKIS, 2003), hlm.161.

Aiko Kurasawa, Pendudukan Jepang dan Perubahan Sosial: Penyerahan Padi Secara Paksa dan Pemberontakan Petani di Indramayu, (Jakarta:Yayasan Obor Indonesia, 1988), hlm. 77.

Para ulama yang disebutkan adalah orang-orang terpandang dan dihormati di daerahnya masing-masing. Sebagai tuan tanah dan tokoh spiritual di Indramayu. Kiai Sulaiman misalnya, beliau diangkap mempunyai ilmu hikmah dan pada waktu petani Indramayu melakukan perlawanan dengan Jepang hampir semuanya meminta doa-doa dan jampi-jampi kepeda Kiai Sulaiman.

Ahmad Mansyur Suryanegara, Pemberontakan PETA di Cileunca Pangalengan Bandung Selatan, (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 7.

Ibid.

Anton E. Lukas, Peristiwa Tiga Daerah; Revolusi dalam Revolusi, (Jakarta: Grafiti Prest, 1989), hlm. 5.

Ahmad Mansyur Suryanegara, hlm. 57-66.

Ibid., hlm.63.

. Sejarah Indramayu, Indramayu: Kantor Kabupaten Indramayu, 1977. hlm. 261-179.

Aiko Kurisawa, Mobilisasi Dan Kontrol, (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 471-479.

Sejarah Indramayu, Indramayu: Kantor Kabupaten Indramayu, 1977, hlm 114.

Ibid.

Hasil wawancara dengan Rasijan, 19 November 2010.




DOI: http://dx.doi.org/10.29300/ttjksi.v1i1.865

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 TSAQOFAH & TARIKH

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Index By:

 Google ScholarIndonesia One Search

Garuda ROAD: the Directory of Open Access scholarly Resources 

      

Creative Commons License 


Tsaqofah & Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam ini diterbitkan oleh Jurusan Adab IAIN Bengkulu dan Disebarluaskan dengan perijinan dibawah Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Jl. Raden Fatah, Pagar Dewa Kota Bengkulu 38211
Bengkulu, Sumatra, Indonesia

View My Stats